KIF Creative

Gutenberg based WordPress Template Site for Starting Your Online Presence for All Kind of Websites

Mengenal Berbagai Ukuran Pengambilan Gambar dalam Film: Mengartikan Cerita melalui Shot Size

Mengenal berbagai ukuran pengambilan gambar dalam film itu sangat penting karena beda teknik pengambilan gambar akan memberikan arti yang sangat berbeda dalam debuah film

Dalam dunia perfilman, setiap detail memiliki arti dan tujuan. Salah satu elemen yang sangat penting adalah ukuran pengambilan gambar atau yang sering disebut “shot size.” Ukuran pengambilan gambar ini memiliki peran besar dalam mengomunikasikan nuansa, ritme, dan makna suatu adegan, serta mempengaruhi bagaimana penonton merasakan dan memahami cerita. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi berbagai jenis ukuran pengambilan gambar dan bagaimana mereka digunakan untuk menciptakan dampak yang berbeda dalam film.

1. Establishing Shot: Memperkenalkan Dunia Cerita

Ketika film dimulai, sangat penting bagi penonton untuk memahami di mana cerita berlangsung. Di sinilah “establishing shot” masuk. Establishing shot adalah tampilan luas yang memberikan gambaran tentang lokasi, waktu, dan lingkungan di mana adegan terjadi. Ini membantu penonton memahami konteks sebelum masuk lebih dalam ke dalam cerita. Misalnya, dalam film fiksi ilmiah di mana dunia baru harus diperkenalkan, establishing shot menjadi jendela pertama yang membawa penonton ke dalam dunia tersebut.

2. Master Shot: Menjelajahi Ruang dan Hubungan

Master shot adalah pengambilan gambar yang lebih luas dari adegan, yang tidak hanya menunjukkan lokasi, tetapi juga memperlihatkan hubungan antara karakter dalam adegan. Ini memberi penonton pemahaman tentang bagaimana karakter berinteraksi satu sama lain dan sekitarnya. Dalam adegan yang melibatkan keluarga atau grup, master shot dapat menunjukkan dinamika dan hubungan di antara mereka. Namun, saat adegan berubah, master shot sering diikuti oleh pengambilan gambar lain untuk menyoroti detail dan emosi yang lebih dalam.

Di sini kita melihat master shot  dari Godfather 2 (gambar) menggambarkan keluarga Corleone di sekitar meja makan. Sebagian besar adegan ini menggunakan master shot untuk menekankan hubungan erat keluarga. Jika kita menelaah adegan tersebut, keharmonisan yang ada pada awal adegan ini berubah ketika mickel membicarakan berita yang menyinggung, dan akhirnya atmosfire yang pada awalnya harmonis berubah menjadi kesendirian.

3. Wide Shot (WS): Menampilkan Skala dan Hubungan dengan Lingkungan

Wide shot, juga dikenal sebagai long shot, menempatkan subjek jauh dari kamera sehingga penonton dapat melihat hubungan mereka dengan lingkungan sekitarnya. Ini membantu menciptakan gambaran tentang skala dan memberikan kesan tentang bagaimana subjek berada dalam ruang yang lebih besar. Jika Anda ingin menekankan kesendirian atau perasaan kewalahan karakter, wide shot dapat digunakan untuk menggambarkannya. Pada saat yang sama, ini juga bisa digunakan untuk menampilkan subjek yang terisolasi di tengah kerumunan.

Dalam film Phantom Thread (gambar) kita dapat melihat karakter Alma dan Reynold dikerdilkan oleh ballroom yang berantakan. Paul Thomas Anderson bisa saja mengakhiri adegan dengan close-up untuk menangkap emosi karakter. Tetapi mengakhiri adegan dengan Wide shot  kita dapat mempertimbangkan Alma dan Reynolds bersama namun terisolasi dari dunia di sekitar mereka. Gunakan Wide shot  saat anda perlu menetapkan hubungan spasial subjek. Menciptakan sebuah statmen dari jarak, depth atau ukuran.

4. Full Shot (FS): Mengenalkan Karakter Utama dan Suasana

Full shot memuat seluruh tubuh subjek dari atas ke bawah dalam bingkai kamera. Ini memberi kita pandangan utuh tentang karakter utama dalam konteks adegan. Di sini, tidak hanya karakter yang ditonjolkan, tetapi juga latar belakang dan suasana di sekitarnya. Dengan memperlihatkan karakter dan lingkungannya dalam satu pengambilan gambar, full shot membantu menciptakan suasana dan memberikan informasi tentang karakter yang lebih kaya.

5. Medium Full Shot / Cowboy Shot: Keberanian dan Konfrontasi

Medium full shot, yang juga dikenal sebagai cowboy shot, memotret karakter dari atas kepala hingga tepat di bawah pinggang. Ini memberikan kesan bahwa kita melihat karakter dalam situasi yang konfrontatif atau penuh keberanian. Misalnya, dalam adegan yang melibatkan senjata, penggunaan medium full shot dapat menunjukkan karakter yang percaya diri dan siap menghadapi tantangan.

6. Medium Shot (MS): Intim dan Berinteraksi

Medium shot adalah ukuran yang sangat umum dan mendekati cara kita berinteraksi dengan orang dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengambil subjek dari atas pinggang hingga di atas kepala, medium shot memberikan fokus pada karakter dan ekspresi wajah mereka. Ini memberikan ruang yang cukup untuk memperlihatkan reaksi, emosi, dan interaksi karakter dengan lingkungan dan orang di sekitarnya.

komposisi khas dari medium shot dimulai dari atas pinggang tetapi di bawah dada dan berakhir tepat di atas kepala.

ukuran shot yang digunakan dalam film animasi pada umumnya berfungsi di bawah aturan komposisi yang sama. mari kita lihat contoh untuk menggambarkan hal ini dengan lebih baik dalam adegan Coco Miguel menonton film yang dibintangi idolanya. Medium shot sedang mengakomodasi cukup banyak properti dari kuil Miguel, detail di layar TV, dan reaksi Miguel. Ini adalah momen intim saat mengamati kegembiraan Miguel beserta objek afeksinya dalam satu frame.

7. Medium Close Up (MCU): Mendalami Emosi dan Hubungan

Medium close-up memotret subjek dari tengah dada hingga tepat di atas kepala mereka. Ini memungkinkan penonton untuk lebih mendekati karakter dan merasakan emosi mereka dengan lebih mendalam. Dalam pengambilan gambar ini, latar belakang dan detail lainnya tidak terlalu mengganggu, yang memungkinkan penonton lebih fokus pada karakter dan cerita.

Dalam cuplikan film Evengers, Thanos menjentikkan jarinya pada momen yang iconic di film ini. Dengan shot size ini kita memiliki ruang untuk Infinity Gauntlet dan Thanos, dan menggambarkan penampilannya yang sangat puas dengan pemikiran bahwa dia adalah satu-satunya, dan ketika dia gagal mengaktifkan Infinity Gauntle, medium close-up ini dirancang untuk juga menangkap reaksinya.

8. Close Up (CU) & Extreme Close Up (ECU): Detail dan Emosi Terperinci

Close-up  dibagi menjadi dua ukuran, Close-up  dan Extreme  Close-up. Biasanya, semakin dekat anda dengan karakter dalam Close-up, semakin dramatis dan emosional adegan itu, dan karena mata adalah pintu gerbang ke pikiran seseorang. Seringkali ketika karakter utama fokus pada sesuatu atau sesuatu yang besar seperti keputusan penting akan terjadi, sutradara cenderung menggunakan Close-up.

Close-up  juga menjadi senjata visual paling ampuh untuk menyoroti perubahan emosi atau ketukan dramatis. Close-up paling sering diatur pada eye level . Shoot ini adalah tentang empati, dramatis, kecemasan, dan lainnya.

Extreme close up adalah versi close-up shot yang lebih intens, terkadang hanya menampilkan mata subjek atau bagian tubuh lainnya. Extreme close up dapat memiliki efek yang berbeda, tergantung pada bagaimana sutradara memilih untuk menggunakannya. Bidikan dapat berfungsi untuk menggarisbawahi emosi tertentu, seperti ketakutan atau keinginan, atau menciptakan perasaan yang meningkat di antara penonton, membuat mereka merasa sedih, geli, jijik, atau tegang. Extreme close up sering digunakan bersama dengan close-up biasa untuk menunjukkan detail yang lebih besar.

Kenalan sama KIF Creative

Sumber Belajar di Ujung Jari: Situs Web KIF Creative

Jika kamu ingin mengeksplorasi lebih jauh tentang dunia perfilman, kunjungi https://www.kifcreative.com. KIF Creative adalah sumber daya yang kaya dengan panduan praktis dan inspirasi untuk pembuatan film. Kamu bisa menemukan informasi tentang berbagai aspek sinematografi, teknik pengambilan gambar, dan banyak lagi. Situs ini juga bisa memberikan panduan tentang peralatan dasar, proses editing, serta tips dan trik dalam pembuatan film. Dengan menjelajahi situs KIF Creative, kamu bisa memulai perjalananmu menjadi pembuat film yang kreatif dan berbakat.

Mengenal Berbagai Ukuran Pengambilan Gambar dalam Film: Mengartikan Cerita melalui Shot Size

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top